Most Recommendations

Showing posts with label kerja. Show all posts
Showing posts with label kerja. Show all posts

Thursday, November 5, 2009

Setelah di PHK


“Saya yakin bahwa semua yang terjadi ada alasan dan situasinya, bahkan yang buruk sekalipun, membuat Anda lebih tegar.”
-- Mya Harrison, penyanyi, usia 18 tahun

EKONOMI Amerika guncang. Kongres Amerika pun menyetujui paket bailout senilai US$700 miliar atau setara Rp 6.300 triliun untuk menyelamatkannya di awal Oktober ini. Walau demikian, pelaku pasar melihat skeptis terhadap keampuhan paket tersebut. Kekhawatiran beberapa pihak terutama investor, muncul berbarengan dengan pengumuman Departemen Tenaga Kerja Amerika, bahwa terjadi 195.000 pemutusan hubungan kerja sepanjang September 2008.

Jumlah itu terbanyak dalam lima tahun terakhir, sekaligus menegaskan betapa buruknya perekonomian. Krisis di negeri Paman Sam tersebut akhirnya merembet ke daratan Eropa. Dikabarkan, lebih dari 500 bankir di Inggris mencari kerja di lembaga-lembaga amal akibat terkena PHK. Itu baru bankir, belum yang lain. Bank terbesar Swiss, yakni UBS, juga mengurangi 2.000 tenaga kerjanya.

Lantas, apa hubungannya dengan Indonesia? Tak dapat dipungkiri, bila ekonomi Amerika batuk saja, seluruh dunia akan terkena flu. Pakar ekonomi bahkan mengatakan, saat ini ekonomi Amerika bukan batuk lagi, tapi disertai meriang dan panas dingin. Dipastikan cepat atau lambat, Indonesia akan terkena imbasnya. Beberapa ekonom masih tetap optimis bahwa krisis ekonomi yang melanda Indonesia nantinya tak separah di tahun 1997 lalu. Walau begitu, tetap saja dua hal yang diperkirakan akan berpengaruh besar terhadap perekonomian Indonesia akibat krisis yang dihadapi Amerika. Pertama, terganggunya arus ekspor. Dan kedua, terbatasnya kredit dari luar negeri yang bisa didapatkan.

Memang tak ada yang bisa memastikan apakah krisis ini akan berdampak lebih buruk atau tidak terhadap perekonomian Indonesia. Masalahnya, jika krisis ini akhirnya berimbas pada perekonomian Indonesia yang mengakibatkan perusahaan Anda merampingkan karyawannya, apa yang harus Anda lakukan? Bagaimana kalau Anda sendiri terkena pemutusan hubungan kerja alias PHK? Siap atau tidak siap, Anda harus sudah memikirkannya dari sekarang.

Anda tentu berpikir, jika memang harus di PHK, tentu akan ada pesangonnya. Betul, itupun kalau perusahaan masih mampu melakukannya. Tapi sampai kapan uang pesangon itu akan bertahan? Kehilangan pekerjaan bisa jadi merupakan pukulan berat dan bukan sesuatu hal yang dipikirkan sebelumnya. Tetapi dengan keadaan perekonomian dunia seperti saat ini, hal-hal buruk semacam itu dapat terjadi pada siapa saja. Baik sebagai atasan, ataupun bawahan sekalipun. Bila terjadi, setiap orang akan bereaksi secara beragam dalam menyikapi PHK, tergantung pada karakter individu masing-masing.

Jika PHK akhirnya benar-benar menghampiri Anda, sebaiknya Anda bersikap tenang. Mudah mengucapkan memang, prakteknya tak segampang itu. Kehilangan pekerjaan memang merupakan sebuah pukulan. Anda boleh mengiba terhadap diri sendiri. Juga meratapinya untuk sesaat. Tapi jangan biarkan hal itu berlarut. Mulailah memikirkan langkah ke depan.

Bila Anda mendapat uang pesangon, mungkin hal itu dapat sedikit mengobati luka hati Anda. Ada dua pilihan di depan mata bila Anda terkena PHK. Yang pertama tentu saja, Anda harus mencari pekerjaan baru lagi di tempat lain sesuai dengan keahlian yang Anda miliki. Anda dapat melakukan beberapa langkah antisipasi dengan lebih baik. Buatlah resume baru yang lebih kreatif dari sebelumnya. Perluas jejaring, dengan menghubungi kawan lama, mencari sejawat baru, dan memanage kolega yang sudah ada. Proaktiflah dalam mencari berbagai sumber yang dapat menjadi batu loncatan untuk memperoleh pekerjaan baru. Dan juga yang penting, berdoa dan memohonlah petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Tak mudah untuk segera mendapat pekerjaan baru. Bila Anda belum berhasil, beberapa saran berikut mungkin dapat membantu Anda untuk tetap sabar dan percaya diri dalam mencari pekerjaan. Hal pertama yang harus Anda ketahui ialah kenali diri Anda dengan seksama sebelum melamar pekerjaan. Tanyalah pada diri sendiri: Apa sesungguhnya bakat saya? Pekerjaan apa yang cocok untuk saya? Apa saja keahlian dan ketrampilan yang saya miliki untuk dapat menunjang pekerjaan saya nantinya? Dengan menjawab beberapa pertanyaan di atas, maka Anda lebih terfokus dalam mencari jenis pekerjaan.

Anda pun harus dapat mengantisipasi berbagai emosi yang berkecamuk dalam diri Anda. Marah, kesal, sedih, imsonia, depresi, dan beberapa gejala lainnya merupakan hal yang normal dialami seseorang ketika baru terkena PHK. Emosi-emosi tersebut dapat segera hilang bila Anda tetap percaya diri, berpikir positif, dan melakukan kesibukan yang bermanfaat dalam mencari pekerjaan baru. Dan yang tak boleh Anda lupakan, persiapkan diri secara matang dalam menghadapi wawancara kerja berikutnya.

Bila Anda terkena PHK, maka pilihan lainnya yang paling memungkinkan ialah Anda membuka usaha baru dengan bermodalkan uang pesangon yang ada. Bila tadinya Anda sudah memiliki usaha sampingan di luar pekerjaan utama sebelum Anda di PHK, itu malah lebih baik. Anda tinggal memfokuskan saja. Bila belum, mulailah mempersiapkan diri sejak saat ini. Bagaimana caranya? Kenali bakat dan bidang apa yang dapat Anda tekuni. Anda dapat berdiskusi dahulu dengan keluarga atau teman sejawat. Mintalah saran dan pendapat dengan mereka yang telah lebih dahulu membuka usaha. Jangan takut untuk memulai. Dan jangan takut pula untuk gagal.

Anda mungkin tidak dapat memprediksi apakah Anda dapat bertahan sebagai karyawan atau tidak pada bulan-bulan berikutnya. Anda juga tidak dapat meramal perusahaan tempat Anda bekerja akan selamanya sehat. Tapi Anda dapat merencanakan mulai dari sekarang, apa yang harus Anda lakukan, jika seandainya Anda benar-benar terkena PHK. Karena, Andalah sendiri yang memilih jalan hidup.
Selengkapnya...

Wednesday, September 2, 2009

Kerja Kreatif, Siapa Bisa?

Kreatif - 1 …berkaitan dengan atau melibatkan imajinasi atau ide-ide
orisinil, khususnya dalam memproduksi pekerjaan artistik; 2 …
kemampuan untuk menciptakan aneka gagasan, terutama dalam pikiran,
imajinasi; 3 … orang (-orang) yang menghasilkan karya-karya; dsb…

Di sekolah kehidupan kita semua adalah mahluk pekerja. Sebab dalam
artinya yang luas, makna kata "kerja" dan "pekerjaan" menunjuk ke

hampir semua aktivitas yang dilakukan oleh manusia atau karya-karya
manusia itu (mesin/alat/teknologi). Aktivitas-aktivitas itu ada yang
bertujuan untuk memperoleh nafkah lahiriah, yang kita sebut upah,
gaji, komisi, atau uang. Ada juga aktivitas yang lebih ditujukan
untuk memperoleh nafkah mental, seperti berburu ilmu pengetahuan dan
keterampilan, baik lewat institusi formal (sekolah-akademi-
universitas yang memberi gelar, bersifat akademis) atau informal
(lembaga non-gelar, bersifat praktis), bahkan nonformal (pergaulan
di masyarakat). Tak sedikit pula aktivitas yang ditujukan untuk
mempererat tali silahturahmi, semacam nafkah sosial-emosional dalam
konteks kehidupan. Dan sebagian aktivitas lagi bertujuan untuk
memperoleh nafkah spiritual yang memberikan kecerahan hati,
kedamaian batin, dan ketentraman yang fundamental dalam menghadapi
badai-badai kehidupan.

Meski semua manusia adalah mahluk pekerja, namun para ahli perilaku
organisasi sering membeda-bedakan jenis pekerjaan—dalam arti karier
yang menafkahi kehidupan pekerjanya—menjadi lima kelompok besar.
Pertama, pekerjaan fungsional yang terfokus pada keahlian teknis di
bidang-bidang khusus. Inilah yang dilakukan oleh ahli mekanik,
desain grafis, pustakawan, teknisi, operator, dan sebagainya. Kedua,
pekerjaan manajerial yang terfokus pada proses analisis informasi
dan pengelolaan neka ragam sumberdaya, termasuk memimpin manusia.
Pekerja di bidang manajerial ini disebut manajer, pimpinan, atau
eksekutif. Ketiga, pekerjaan entreprener yang terfokus pada upaya
menghasilkan produk/jasa baru dan/atau membangun organisasi usaha
(perusahaan) yang bertujuan mencetak laba bagi pemiliknya. Kita
menyebut kaum pekerja jenis ini sebagai pedagang, wirausaha,
pengusaha, konglomerat, atau tikon, tergantung pada skala usahanya.
Keempat, pekerjaan negara yang terfokus pada tugas-tugas
administrasi birokrasi dan pertahanan keamanan seperti pegawai
negeri dan militer, dengan jenjang yang jelas dan relatif stabil
sehinga memberikan rasa aman tertentu. Dan kelima, pekerjaan mandiri
yang terfokus pada kebebasan berkarya sesuai dengan irama atau waktu
kerja masing-masing, seperti pada peneliti, seniman, penulis lepas,
konsultan, dan sebagainya.

Banyak orang berpendapat bahwa dari kelima jenis pekerjaan tersebut
di atas, pekerjaan sebagai entreprener adalah jenis yang paling
banyak menuntut kreativitas. Sebab entreprener diharapkan untuk
melakukan inovasi dengan menghasilkan hal-hal baru yang berguna bagi
masyarakat luas atau menemukan cara-cara baru yang memberikan nilai
tambah terhadap sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Lahirnya produk-
produk legendaris seperti Aqua, Teh Sosro, Es Teller 77, Jamu Tolak
Angin, Dunia Fantasi, Kota Wisata, dan sebagainya, selalu digunakan
sebagai contoh kreativitas kaum entreprener di Indonesia. Dengan
kata lain, entreprener dianggap sebagai kaum "pekerja kreatif" di
masyarakat.

Pada sisi lain, sebagian orang melekatkan predikat "pekerja kreatif"
hanya terbatas pada praktisi industri periklanan. Terutama karena
secara eksplisit, dalam industri periklanan di kenal jabatan kunci
yang diberi label "Creative Director". Selanjutnya, ada pula yang
mengaitkan konsep "pekerja kreatif" ini hanya terbatas kepada para
seniman, pemain teater, sastrawan, dan praktisi industri hiburan,
yang umumnya bekerja di luar kantor-kantor tradisional.

Jadi, apakah kerja kreatif itu hanya terbatas milik entreprener,
praktisi periklanan dan industri hiburan? Apakah pekerja fungsional,
pekerja manajerial, dan pekerja negara tidak perlu kreatif, cukup
mengikuti sistem dan prosedur saja?

Terus terang, dari proses pembelajaran saya di sekolah kehidupan,
saya melihat tuntutan untuk menjadi pekerja kreatif, setidaknya di
milenium ketiga ini, berlaku hampir di semua jenis pekerjaan yang
disebutkan di atas. Era kerja keras semata sudah bukan jamannya
lagi, meski sulit bagi sebagian besar orang untuk tidak bekerja
keras. Di atas kebiasaan kerja keras, perlu ditambahkan kemampuan
untuk bekerja secara cerdas, yaitu kerja kreatif.

Dalam konsep kerja keras, indikator pertama yang biasanya
dipergunakan untuk mengukur seberapa "keras" seseorang telah bekerja
adalah lamanya waktu bekerja. Misalnya, jika sebagian orang bekerja
dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam, maka ia kita sebut bekerja
keras, sebab orang kebanyakan bekerja dari jam 8/9 pagi hingga jam 5
sore saja. Atau jika orang masuk kantor di hari Sabtu, ketika kawan-
kawannya menikmati liburan akhir minggu, maka ia disebut sebagai
pekerja keras. Atau kalau ada orang yang bekerja sampai 50/60 jam
dalam seminggu, ia masuk kelompok pekerja keras karena umumnya waktu
kerja normal 40/44 jam seminggu.

Untuk mampu menjadi pekerja keras, sudah barang tentu dipersyaratkan
kondisi fisik yang prima. Orang-orang yang mudah jatuh sakit tidak
akan dikenal sebagai pekerja keras. Orang-orang yang tidak
menunjukkan disiplin dalam bekerja, juga umumnya tidak dimasukkan
dalam kategori pekerja keras. Jadi, kesehatan fisik dan disiplin
menjadi indikator kedua untuk dapat mengukur siapakah yang layak
disebut sebagai pekerja keras.

Pertanyaannya sekarang, jika pekerja keras dapat didefinisikan
dengan ukuran jumlah waktu kerja, kesehatan fisik, dan disiplin
kerja, bagaimanakah kita mengukur atau mendefinisikan "pekerja
kreatif" yang bekerja secara cerdas?

Ada orang yang menggunakan istilah "Lazy Achiever" untuk menunjuk
kepada kaum pekerja kreatif ini. Istilah ini sangat provokatif,
sebab bagaimana mungkin seorang pemalas bisa berprestasi? Namun
terlepas dari istilahnya itu, ia menawarkan konsep untuk bekerja 4-5
jam sehari dengan hasil-hasil yang sama atau bahkan lebih baik dari
orang-orang yang bekerja 9-10 jam sehari. Dengan kata lain, pekerja
kreatif adalah mereka yang bekerja dengan waktu yang lebih singkat
untuk memperoleh hasil yang sama atau lebih baik. Disamping itu,
konsep "Lazy Achiever" menunjuk kepada orang-orang yang bisa bekerja
secara mandiri atau berkolaborasi dan tidak terikat pada lokasi
kerja yang disebut kantor. Tempat kerja kaum kreatif ini bisa dimana
saja, mulai dari rumah, garasi, kafe, lobby hotel, kantin sekolah,
taman rekreasi, dan sebagainya. Dan mereka dimungkinkan untuk
bekerja dimana saja karena perlengkapan kerjanya mudah dibawa kemana-
mana (mobile working tools).

Jadi, kerja kreatif diartikan sebagai bekerja dengan waktu lebih
pendek dan fleksibel, secara mandiri atau berkolaborasi, di lokasi
kerja yang juga fleksibel, dengan hasil-hasil yang berkualitas
tinggi. Untuk itu tidak saja diperlukan fisik yang sehat dan
disiplin, tetapi dipersyaratkan penggunaan potensi kecerdasan
lainnya yang telah dikembangkan secara memadai.

Dengan pemahaman seperti di atas, muncul pandangan bahwa kerja keras
adalah fondasi yang perlu, tetapi tidak akan membawa seseorang
kepada kehidupan yang berkualitas. Kerja keras merupakan persyaratan
yang diperlukan, tetapi tidak mencukupi (necessary but not
sufficient condition) untuk menikmati kehidupan yang berkualitas dan
penuh makna. Dan kerja keras hanya menarik jika kita masih dalam
rentang usia 20-40 tahun. Setelah lewat usia 40 tahun, kita
seharusnya telah mampu bekerja secara cerdas, menjadi pekerja
kreatif, yang memberi makna pada hidup yang fana.

Selengkapnya...

Reviewmu.com